Distinct from its neighbor, the Verses collection presented contemplations in form of poetry and brief sentences that ponder daily reflections as well as special occasions. To enrich the scheme, a selection of quotes from fine men and women covering a wide span of periods is attached in this section.
Banyak yang bilang aku kotoran kota Banyak yang tuduh aku bandit kecil Banyak yang vonis aku anak rusak Biarlah... aku toh tetap senang
Kau tahu kenapa aku senang? Justru anak-anak dan orang-orang macam kau bikin aku senang ! Ya, kau itu yang sedang membaca lamunanku ini… iya, kau ! Oh bukan… bukan karena sumbanganmu yang cuma seperseratusribu jajananmu…
Aku tahu itu memang banyak bagiku, tapi kan kau menyumbang sebetulnya bukan karena aku, tapi supaya kau sudah merasa jadi dermawan kan ?? Baguslah kalau kau senang dengan menyumbang, tapi aku senang bukan karena sumbanganmu…
Aku senang justru karena kau tidak senang …. Kau sering memandang golonganku rendah, tapi sebetulnya, asal kau tahu, kami pun sering kasihan dengan golonganmu….
Aku hidup dari hasil keluyuranku di jalan, mengganggu orang katanya, biarlah… Tapi kau? Kau yang sudah berkumis dan berdada besar masih terus minta disuap mama-papa mu… Sedangkan aku ? Minta sarapan dari emak-ku saja aku tidak tega, itu artinya dia buang uang…
Lebih baik dia jual makanan itu ke warung buat ditukar obat nyamuk buat adik ku yang tiap malam menangis diserang nyamuk-nyamuk comberan… Comberan yang isinya kotoran rumah mu… Yah, kau mungkin tak bisa mengerti… aku maklum kok, kalau pendingin kamarmu saja rusak, kau sudah teriak-teriak dan merengek-rengek susah tidur… Kawan, kau tak tau artinya susah tidur… apalagi cuma alas tikar robek …
Biarlah… aku toh senang… Aku senang karena emak ku justru ingin sekali membuatkan sarapan karena aku tau dia sayang aku, karena aku tau dia ingin aku sehat… Aku juga senang karena dia tau aku tidak tega minta sarapan karena aku sayang adik ku Aku senang karena kita saling tau betapa kita saling mencintai
Sementara kau, kau dapat semua yang kau inginkan karena rengekanmu, apa pun yang ayah-ibumu berikan akan selalu kurang … Bagaimana mungkin kau akan bisa senang, hai anak tak tahu diuntung? Bagaimana orangtua mu bisa tau kalau kau sayang mereka ? Dengan rengekanmu ?
Tentu saja kau akan selalu dibabibutakan dengan omelan dan amarah mereka … Dan kalau begitu, kau tuduh mereka tidak sayang padamu…. Aku mungkin kotoran kota, tapi hatimu lah yang lebih kotor! Aku bikin kotor perempatan, tapi kau bikin kotor kasih sayang keluargamu…
Itu semua karena kau bodoh ! Itulah juga yang membuatku senang, melihat segala kebodohanmu Sungguh aku tidak mau jadi orang sebodoh kalian !
Kau sungguh bodoh tidak melihat kemegahan rumahmu Lebih bodoh lagi tidak bisa menikmati hidangan babu-babu mu Paling bodoh ialah kau buta terhadap kasih sayang orang tua mu Tanpa orang tua mu kau mungkin sama denganku, di pengkolan sana, menganggu mobil-mobil yang lewat supaya kita bisa makan tempe goreng…
Oh, aku salah… kau tidak akan sanggup mandi tanpa sabun, kau tidak akan kuat kotornya jalanan, kau tidak akan bisa puasa sepanjang taun… Siapalah yang tau akan jadi apa kau tanpa santunan mereka …
Terlebih lagi Kawan, kau tidak akan mau punya emak seperti emak ku yang tidak akan bisa membelikanmu pakaian necis, apalagi sepatu bagus…. Iyalah, bagaimana mungkin kau mau emak macam itu, sementara handphone yang kau punya saja kau sudah bosan, mobil yang kau setir bagimu masih kurang hebat… Kau teror terus orangtua mu supaya kau dapat mainanmu… Aku mungkin bandit kecil, aku suka ganggu orang lain… Tapi kau banditi sendiri orang yang melahirkan dan membesarkanmu …
Aku senang karena emak ku tidak punya anak macam kau... kasihan dia… Kalau aku rengek terus emak ku supaya bisa sekolah saja, bisa sakit jantung dia kerja sampai mampus… Tapi kau ? Kalau perlu kau ambil juga jantung orang tua mu supaya kau bisa hidup dua kali dengan uang mereka…. Apa ? Tidak mungkin ?... Yah, kupikir tadinya juga tidak mungkin seorang anak berani kasari orang tuanya…
Berani-beraninya orang vonis aku anak rusak… bagiku anak baru rusak kalau berani kurang ajar ke orang tuanya… namanya juga ‘anak’ yang rusak …. Coba kau tanya emak ku, kapan aku berani sakiti dia apalagi bikin dia marah …
Aku senang dengan hidupku sekarang Aku senang aku masih bisa bermain Aku senang aku tidak kena bencana maha dahsyat Aku senang terkadang bisa makan dua kali Aku senang tangan-kakiku bisa kupakai
Tapi Kawan, aku paling senang karena aku bukan engkau... Aku kotoran kota, tapi kasih sayang keluargaku tetap jernih Aku bandit kecil, tapi emak ku anggap aku malaikat Aku anak rusak, tapi aku tidak merusak segala berkat yang kuterima
Ah sudahlah, lebih baik aku ganggu mobil-mobil itu lagi daripada melamun.... nanti aku sama bodohnya dengan kau ...
-Rotterdam, 11 Januari 2005
Some phrases are worth remembering or at least glanced through once and again. Indeed, their worthiness is often boosted by the person behind the words. This selection provides a very small fraction of those phrases from renowned ladies and gentlemen from various periods. Although they are listed in no particular order, updates will be placed on top for comfort reading.
Dalam masa yang penuh cobaan ini banyak idealisme yang padam, banyak semangat perjuangan yang kendor, banyak pemimpin yang luntur, namun kita yakin ... bahwa bangsa kita akan selalu memiliki kekuatan untuk pada suatu waktu menghentikan proses yang hendak menghilangkan hasil, cucuran darah dan percikan keringat dan meniadakan hasil pengorbanan dan penderitaan bangsa kita.
Revolusi kita baru selesai selangkah. Revolusi kita itu harus kita teruskan dan rampungkan. Modalnya tidak lain ialah semagat revolusi yang sudah tertanam dalam tubuh kita.
Selama darah revolusi mengalir dalam tubuh kita, selama itu pula tidak ada rintangan yang tidak dapat kita atasi.—A.H. Nasution
This section contains personal short contemplations where most of them are inspired by daily affairs and predicaments. For comfort reading, the updates will be placed on top. Although all of them are original, in case of similarity with quotes from they who enjoy the benefit of fame, I presume I must yield. Nevertheless, minds are irreproducible and contemplations will be of greater use when shared.